Langsung ke konten

INVESTASI DOLAR

Stablecoin dan
investasi dolar.

USDT dan USDC membawa dolar ke dompet digital. Di jalur lain, obligasi dan Reksa Dana menawarkan pendapatan dari uang yang diinvestasikan. Kini, tokenisasi mulai mempertemukan pilihan-pilihan tersebut di blockchain.

Isi panduan

Di aplikasi kripto, USDT dan USDC sering menjadi tempat menyimpan hasil penjualan aset sebelum dipakai untuk transaksi berikutnya. Keduanya memberi cara untuk memegang nilai dolar tanpa harus keluar dari jaringan blockchain. Namun, saldo dolar itu belum tentu menghasilkan pendapatan selama disimpan.

Memegang dolar lewat USDT dan USDC.

USDT dan USDC adalah token digital yang menargetkan nilai satu dolar Amerika Serikat (USD) per token. Jenis token yang mengikuti nilai mata uang atau aset tertentu ini disebut stablecoin. Kepemilikan dan transaksinya dicatat pada blockchain, jaringan pencatatan digital bersama.

Dalam perdagangan sehari-hari, harga USDT dan USDC biasanya berada dekat patokan satu dolar, dengan selisih kecil. Penyimpangan yang lebih besar dapat terjadi ketika pasar atau penerbitnya mengalami tekanan.

Tether menerbitkan USDT, sedangkan USDC diterbitkan melalui perusahaan dalam grup Circle Internet Group. Circle merupakan perusahaan publik di Amerika Serikat, tercatat di New York Stock Exchange dengan kode saham CRCL.

Penerbit menyiapkan cadangan untuk menopang penukaran token. Cadangan USDC, misalnya, berupa kas dan aset setara kas, termasuk surat utang pemerintah AS berjangka pendek. Pendapatan dari cadangan tersebut tidak otomatis menjadi hak pemegang USDC.

Untuk memperoleh hasil dari USDT, biasanya ada layanan tambahan yang menggunakan token itu, misalnya dengan meminjamkannya atau menempatkannya pada investasi lain. Layanan semacam ini kadang memakai nama USDT fund. Sumber hasilnya berasal dari kegiatan investasi tersebut, dengan risiko tersendiri.

Rupiah pun punya stablecoin.

Konsep yang sama dapat memakai mata uang selain dolar. Di Indonesia, IDRX dan IDRP memakai rupiah sebagai acuan nilai. Satu token IDRX, misalnya, menargetkan nilai Rp1. Memegangnya berarti mengikuti nilai rupiah, sehingga fungsinya berbeda dari menyimpan dolar lewat USDT atau USDC.

Penerbit IDRP, PT Adhyoka Berkah Maju, lulus ruang uji coba atau sandbox OJK pada 11 Juni 2026 untuk model penerbit stablecoin rupiah.

Dari menyimpan dolar ke berinvestasi.

Bagi pemilik dolar yang ingin memperoleh pendapatan, pilihannya sudah lama tersedia di Indonesia. Ada Reksa Dana dan obligasi berdenominasi USD, yaitu investasi yang nilainya dinyatakan dalam dolar AS.

Manulife Liquid Fund USD Kelas A, misalnya, merupakan Reksa Dana Pasar Uang kelolaan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Pengelola menempatkan dananya pada instrumen dolar seperti deposito dan surat utang jangka pendek. Investor memiliki unit penyertaan, satuan kepemilikan dalam Reksa Dana, dan mengikuti hasil pengelolaan kumpulan aset tersebut.

Pilihan lainnya adalah INDON, obligasi dolar yang diterbitkan Pemerintah Republik Indonesia. Pemegangnya menerima pembayaran bunga, yang disebut kupon, sesuai seri obligasi yang dibeli. Jika dijual sebelum jatuh tempo, harga jualnya mengikuti kondisi pasar.

Mengenali isi investasiSama-sama dolar.
Sumber nilainya berbeda.
Stablecoin USDUSDT · USDC

Menargetkan nilai satu dolar per token. Memegang token tidak otomatis memberi bunga dari cadangannya.

Obligasi USDContoh: INDON

Kupon mengikuti ketentuan obligasi. Harga bisa berubah saat dijual sebelum jatuh tempo.

Dana investasi USDContoh: Reksa Dana Pasar Uang USD

Hasil mengikuti instrumen di dalam portofolio, seperti deposito dolar dan surat utang.

Dana investasi kini hadir sebagai token.

Dana investasi seperti Reksa Dana Pasar Uang kini juga dapat dimiliki dalam bentuk token digital. Inilah salah satu penerapan tokenisasi aset dunia nyata (tokenized real world asset). Token tersebut mewakili bagian kepemilikan investor beserta hak atas hasil pengelolaan dana.

Di Amerika Serikat, Franklin Templeton menjalankan Franklin OnChain U.S. Government Money Fund (FOBXX). Kepemilikannya dibagi menjadi saham dalam dana; satu token BENJI mewakili satu saham. Asetnya mencakup surat berharga pemerintah AS dan kas, dengan pencatatan kepemilikan melalui sistem Benji yang terhubung ke blockchain.

BlackRock menempuh jalur serupa lewat BUIDL, yang diluncurkan bersama Securitize pada Maret 2024. Dana investasi dolar ini menempatkan asetnya antara lain pada kas dan surat utang pemerintah AS berjangka pendek. BUIDL ditujukan bagi investor yang memenuhi persyaratan kelayakannya.

Pada kedua contoh dana bertoken (tokenized fund) ini, blockchain mencatat siapa pemilik investasinya. Sumber pendapatan tetap berasal dari aset dasar (underlying asset), seperti surat utang dalam portofolio.

Peluang Dana Kripto berbasis dolar.

Hadirnya dana investasi dolar dalam bentuk token memberi Manajer Dana Kripto pilihan tambahan untuk menyusun portofolio. Sebuah produk bisa dirancang untuk berinvestasi pada token obligasi atau kepemilikan dana investasi dolar (USD fund), sesuai kebijakan produk, persyaratan akses, dan aturan di Indonesia.

Sebagai gambaran, pengelola memilih Reksa Dana Pasar Uang USD berbentuk token untuk sebagian portofolionya. Hasil pengelolaan Reksa Dana itu kemudian ikut memengaruhi kinerja Dana Kripto. Investor memiliki Unit Kripto, yaitu bagian kepemilikan dalam produk Dana Kripto. Pengelola menangani pilihan aset dan transaksinya.

Hasil dalam dolar, nilainya dalam rupiah.

Saat hasil investasi akan dipakai di Indonesia, nilainya sering dihitung kembali dalam rupiah. Pada tahap ini, kurs atau nilai tukar dolar terhadap rupiah ikut menentukan hasilnya.

Sebagai ilustrasi, aset senilai US$1.000 setara Rp16.000.000 pada kurs Rp16.000 per dolar. Ketika kurs menjadi Rp17.000, nilainya naik menjadi Rp17.000.000 meskipun jumlah dolarnya tetap.

Pengaruh kursDolarnya sama.
Rupiahnya bisa berubah.
Nilai asetUS$1.000
Kurs Rp16.000 / US$Rp16.000.000
Kurs Rp17.000 / US$Rp17.000.000

Contoh hitungan sebelum biaya penukaran. Selisih Rp1.000.000 berasal dari perubahan kurs.

Hal sebaliknya terjadi ketika rupiah menguat. Investasi yang bertambah nilainya dalam dolar pun bisa memberikan hasil lebih kecil setelah dikonversi ke rupiah. Hasil yang akhirnya diterima mengikuti kinerja aset, perubahan kurs, serta biaya investasi dan penukaran.